Aku menulis karena anggap saja kita sedang berdialog di sini. Entah kamu baca atau tidak.
Tapi kalau memang tidak sempat kamu baca, aku harap suatu saat kita bisa membacanya bersama. Dengan kamu ada di sebelahku dan kepalaku terbaring di atas lenganmu. Nanti kita tertawa bersama melihat aku sedang rindu-rindunya pada masa ini.
Monday, 11 January 2016
Sunday, 10 January 2016
Ujung malam.
Seharian ini dadaku bergetar hebat. Terus saja seperti itu padahal sudah kutarik napas dalam berulang kali. Hingga ujungnya, air mataku menetes. Ternyata seberat ini rasanya menunggu. Berarti sabarku masih kurang. Berarti tawakkalku masih setengah-setengah. Berarti percayaku masih sedikit.
Thursday, 7 January 2016
Thursday, 26 November 2015
Berhentilah, Untuk Kita.
Selamat pagi yang semakin hari semakin dijauhkan dari saya.
Yang dulu sedekat nadi, sekarang menjadi sejauh matahari.
Yang dulu pernah menghabiskan waktu berjam-jam tertawa bersama.
Kita hanya diberi kesempatan mengenal lewat tulisan, suara, dan pertemuan singkat selama ini.
Kita hanya diberi waktu untuk saling memiliki perasaan tanpa diizinkan menjadi saling memiliki.
Tak banyak yang mengerti kita. Bahwa kita pernah saling mengisi selama empat tahun lebih. Saling menggantungkan harapan meskipun hanya sempat disimpan dalam doa.
Kita pernah berusaha saling memberitahu apa yang di hati, namun sesaat setelahnya kita malah memutuskan untuk saling melepaskan. Iya, setahun yang lalu. Kamu memutuskan untuk mengalah dan melepaskanku untuk orang lain.
Rupanya memang itu akhir yang kamu berikan.
Dan tanpa bertanya mengapa, saya menerimanya. Saya mencoba berbahagia dengan cara yang baru. Cara tanpa kamu. Berbahagia untuk memilih tempat pulang lain yang selama ini selalu saya kembalikan padamu.
Sampai akhirnya, hingga saat ini, saya berhasil berbahagia tanpa kamu.
Ini pertama kalinya saya luar biasa rela jika memang sesepele ini kebersamaan kita. Kamu tau kan? Ada banyak hal yang menjadi lebih baik dibiarkan terkubur daripada membuatnya mekar. Mungkin itu kita. Yang lebih memilih berpisah sebelum sempat mencoba satu kali pun.
Yang dulu sedekat nadi, sekarang menjadi sejauh matahari.
Yang dulu pernah menghabiskan waktu berjam-jam tertawa bersama.
Kita hanya diberi kesempatan mengenal lewat tulisan, suara, dan pertemuan singkat selama ini.
Kita hanya diberi waktu untuk saling memiliki perasaan tanpa diizinkan menjadi saling memiliki.
Tak banyak yang mengerti kita. Bahwa kita pernah saling mengisi selama empat tahun lebih. Saling menggantungkan harapan meskipun hanya sempat disimpan dalam doa.
Kita pernah berusaha saling memberitahu apa yang di hati, namun sesaat setelahnya kita malah memutuskan untuk saling melepaskan. Iya, setahun yang lalu. Kamu memutuskan untuk mengalah dan melepaskanku untuk orang lain.
Rupanya memang itu akhir yang kamu berikan.
Dan tanpa bertanya mengapa, saya menerimanya. Saya mencoba berbahagia dengan cara yang baru. Cara tanpa kamu. Berbahagia untuk memilih tempat pulang lain yang selama ini selalu saya kembalikan padamu.
Sampai akhirnya, hingga saat ini, saya berhasil berbahagia tanpa kamu.
Ini pertama kalinya saya luar biasa rela jika memang sesepele ini kebersamaan kita. Kamu tau kan? Ada banyak hal yang menjadi lebih baik dibiarkan terkubur daripada membuatnya mekar. Mungkin itu kita. Yang lebih memilih berpisah sebelum sempat mencoba satu kali pun.
Lagi-lagi Ingatan Tentangmu Menjatuhkanku Pada Luka
Hari ini hujan dan aku sedang termangu di sudut meja perpustakaan.
Melihat keluar, air mengalir begitu deras.
Bersamaan dengan itu, mataku juga basah.
Harus bagaimana lagi aku bersikap melawan semua lelah ini.
Sudah sekitar setahun lebih kita memutuskan untuk saling melupakan sebelum sempat saling berjuang. Itu yang kamu minta. Aku langsung mengiyakan tanpa bertanya alasan.
Saat itu aku diam bukan karena sepakat, tapi aku tersentak keras.
Secepat itu kebahagiaan direnggut sesaat setelah ketika kamu bilang hanya satu hatiku yang kamu tuju selama ini--selama bertahun-tahun aku menunggu--tapi akhirnya kamu lepaskan juga.
Saat aku mendukung keputusanmu dan berdoa tentang penggantiku, bukan karena aku sepakat, tapi aku merasa kamu pun memang tak pernah ingin mempertahankanku. Dan itu satu-satunya hal terbaik yang bisa aku lakukan untukmu. Sekalipun ingin sekali aku memohon tetap bertahanlah untukku.
Melihat keluar, air mengalir begitu deras.
Bersamaan dengan itu, mataku juga basah.
Harus bagaimana lagi aku bersikap melawan semua lelah ini.
Sudah sekitar setahun lebih kita memutuskan untuk saling melupakan sebelum sempat saling berjuang. Itu yang kamu minta. Aku langsung mengiyakan tanpa bertanya alasan.
Saat itu aku diam bukan karena sepakat, tapi aku tersentak keras.
Secepat itu kebahagiaan direnggut sesaat setelah ketika kamu bilang hanya satu hatiku yang kamu tuju selama ini--selama bertahun-tahun aku menunggu--tapi akhirnya kamu lepaskan juga.
Saat aku mendukung keputusanmu dan berdoa tentang penggantiku, bukan karena aku sepakat, tapi aku merasa kamu pun memang tak pernah ingin mempertahankanku. Dan itu satu-satunya hal terbaik yang bisa aku lakukan untukmu. Sekalipun ingin sekali aku memohon tetap bertahanlah untukku.
Baik-baiklah
Bismillahirrahmanirrahim.
--------
Hari ini saya mendapatkan satu pelajaran berharga sepulang dari kampus.
Saya menyetir dengan kecepatan sedang, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak paruh baya mengendarai motor dengan membonceng istri anaknya dan menyebrang secara mendadak di perempatan jalan kampung yang sedang ramai-ramainya. Saya yang kaget, seketika menginjak rem dengan cepat. Kebetulan di depan saya ada pengendara motor dan ia juga sama-sama kagetnya. Bapak tadi mengucapkan maaf dengan segera. Mungkin beliau sedang tergesa-gesa. Saya segera membuka kaca mobil dan mempersilahkan beliau untuk lewat. Tapi pengendara motor di depan saya justru emosi dan mengumpat dengan keras. Kemudian ia pergi sambil terus saja memaki bapak tadi.
--------
Hari ini saya mendapatkan satu pelajaran berharga sepulang dari kampus.
Saya menyetir dengan kecepatan sedang, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak paruh baya mengendarai motor dengan membonceng istri anaknya dan menyebrang secara mendadak di perempatan jalan kampung yang sedang ramai-ramainya. Saya yang kaget, seketika menginjak rem dengan cepat. Kebetulan di depan saya ada pengendara motor dan ia juga sama-sama kagetnya. Bapak tadi mengucapkan maaf dengan segera. Mungkin beliau sedang tergesa-gesa. Saya segera membuka kaca mobil dan mempersilahkan beliau untuk lewat. Tapi pengendara motor di depan saya justru emosi dan mengumpat dengan keras. Kemudian ia pergi sambil terus saja memaki bapak tadi.
Tuesday, 13 January 2015
Perjalanan.
Mari melakukan banyak perjalanan.
Kemudian kita menjadi semakin saling jatuh cinta di dalamnya.
Mari menulis banyak sejarah.
Kelak akan kita ceritakan di masa tua.
Kemudian kita menjadi semakin saling jatuh cinta di dalamnya.
Mari menulis banyak sejarah.
Kelak akan kita ceritakan di masa tua.
Sunday, 11 January 2015
Satu alasan.
"Teman-temanmu adalah temanku juga. Kenalkan padaku. Kita bisa bermain bersama. Dan teman-temanku, akan menjadi temanmu juga."
Sunday, 28 September 2014
Sudah, jangan takut!
Jangan pernah takut kau tak mampu membahagiakan aku kelak saat kita bersama. Dengan membayangkan bahwa aku akan tumbuh bersamamu saja sudah sangat menyenangkan.
Kita bisa pergi kemanapun sesuka kita. Kau dan aku sama-sama menggilai travelling kan?
Pasti tak susah untuk mencari kebahagiaan pada dirimu.
Kita bisa pergi kemanapun sesuka kita. Kau dan aku sama-sama menggilai travelling kan?
Pasti tak susah untuk mencari kebahagiaan pada dirimu.
Masih lama kah di luar?
Jadi, sudah berapa ribu langkah yang kamu buat saat berada jauh dariku?
Dan apa saja yang kamu lakukan di sana?
Aku menghitung waktu navigasimu ternyata lama sekali, Tuan. Padahal aku sudah sejak dulu di depan pintu menunggu kepulanganmu.
Dan apa saja yang kamu lakukan di sana?
Aku menghitung waktu navigasimu ternyata lama sekali, Tuan. Padahal aku sudah sejak dulu di depan pintu menunggu kepulanganmu.
Saturday, 27 September 2014
Tuan.
Pada ruang sajakku, aku menemukanmu terjaga dalam rabunku.
Lantas pada bentang pandangku, aku melihat bulan karam di matamu.
Saat kau hentakkan kaki pun tak pernah kau temui dasar.
Rindu ini menumpuk, semakin menebal, menggagas kebekuanmu, Tuan.
--
Lantas pada bentang pandangku, aku melihat bulan karam di matamu.
Saat kau hentakkan kaki pun tak pernah kau temui dasar.
Rindu ini menumpuk, semakin menebal, menggagas kebekuanmu, Tuan.
--
Dibangunkan rindu.
Lagi-lagi rindu ini membangunkanku.
Membawa pada ibadah panjang.
Megamu sungguh menyihir, Tuan.
Membuat mata basah demi segala rasa yang menengadah.
Membawa pada ibadah panjang.
Megamu sungguh menyihir, Tuan.
Membuat mata basah demi segala rasa yang menengadah.
Menulislah.
Menulislah seperti kau sedang candu. Barangkali yang tak sempat terlisankan itu bisa tersampaikan dengan lebih baik melalui huruf-hurufmu.
Menulislah sekalipun kau dikata penakut untuk berucap. Karena kau lebih memilih menghormati jarak daripada melanggar aturan Tuhan.
Menulislah jika itu mampu membuatmu bahagia dalam kebekuan yang menggigit. Tulisan mampu menyatukan emosimu. Membuatmu riang bercakap dengannya dalam deretan kata. Meskipun nyatanya kalian sama-sama membisu. Atau kamu mungkin yang terlalu perasa?
Dan aku tau juga; Menulislah meskipun tak pernah dibaca olehnya.
Menulislah sekalipun kau dikata penakut untuk berucap. Karena kau lebih memilih menghormati jarak daripada melanggar aturan Tuhan.
Menulislah jika itu mampu membuatmu bahagia dalam kebekuan yang menggigit. Tulisan mampu menyatukan emosimu. Membuatmu riang bercakap dengannya dalam deretan kata. Meskipun nyatanya kalian sama-sama membisu. Atau kamu mungkin yang terlalu perasa?
Dan aku tau juga; Menulislah meskipun tak pernah dibaca olehnya.
Berlarilah! Namun sebatas dalam pikiranku saja.
Pada bait-bait kerinduan yang aku tulis malam ini, ada keinginan kuat untuk menyapamu. Aku sangat ingin tau sedang apa kamu di sana. Atau sekedar menanyakan kabar hatimu, mungkin. Tapi aku urungkan lagi. Aku kembali menyelimuti diri dengan tumpukan malu yang aku ciptakan sendiri. Kan aku sudah bilang kalau kita butuh saling menjauh untuk sementara waktu ini. Masa iya aku duluan yang mengatakan kalau aku rindu? Ah, tidak. Gengsi dong.
Aku hanya berani gila merinduimu di belakang. Dari sini. Dari kejauhan. Licik kan? Memang.
Meski aku sendiri tak yakin dengan kata-kataku untuk meminta jarak dan menjeda komunikasi kita, karena ya sekali lagi, rindu ini selalu bermuara padamu, Tuan.
Aku selalu membiarkan pikiranku berlari-lari padahal aku sudah sangat kelelahan. Aku biarkan dirimu bebas berlari kesana kemari hanya dalam pikiran saja. Karena jika aku lepaskan pada dunia nyata, mungkin ceritanya tak akan seindah imajinasiku. Aku membahagiakan diriku sendiri dengan syair-syair cinta yang aku ramu.
Aku selalu diingatkan mereka, kawan-kawanku, agar selalu yakin untuk mempertahankanmu. Mereka sebegitu percayanya bahwa kamu yang paling baik untukku. Bahwa nanti kamu akan datang ke rumahku dan menemui orang tuaku. Bahwa aku hanya perlu lebih bersabar menunggumu untuk memintaku. Aku tertawa tiap mereka menggoda dan menyebut-nyebut namamu dalam berbagai hal yang aku lakukan. Aku tak menjawab apapun di depan mereka selain mengamini doa itu.
Tapi kemudian aku diam.
Dan setelah itu mataku basah pada bentangan sajadah panjangku.
Aku hanya merasa terlalu bodoh jika masih berani memimpikanmu, padahal sebenarnya aku tak pantas.
Aku hanya berani gila merinduimu di belakang. Dari sini. Dari kejauhan. Licik kan? Memang.
Meski aku sendiri tak yakin dengan kata-kataku untuk meminta jarak dan menjeda komunikasi kita, karena ya sekali lagi, rindu ini selalu bermuara padamu, Tuan.
Aku selalu membiarkan pikiranku berlari-lari padahal aku sudah sangat kelelahan. Aku biarkan dirimu bebas berlari kesana kemari hanya dalam pikiran saja. Karena jika aku lepaskan pada dunia nyata, mungkin ceritanya tak akan seindah imajinasiku. Aku membahagiakan diriku sendiri dengan syair-syair cinta yang aku ramu.
Aku selalu diingatkan mereka, kawan-kawanku, agar selalu yakin untuk mempertahankanmu. Mereka sebegitu percayanya bahwa kamu yang paling baik untukku. Bahwa nanti kamu akan datang ke rumahku dan menemui orang tuaku. Bahwa aku hanya perlu lebih bersabar menunggumu untuk memintaku. Aku tertawa tiap mereka menggoda dan menyebut-nyebut namamu dalam berbagai hal yang aku lakukan. Aku tak menjawab apapun di depan mereka selain mengamini doa itu.
Tapi kemudian aku diam.
Dan setelah itu mataku basah pada bentangan sajadah panjangku.
Aku hanya merasa terlalu bodoh jika masih berani memimpikanmu, padahal sebenarnya aku tak pantas.
Friday, 26 September 2014
Jadilah Pemilih yang Baik
Pasti ada satu fase dimana kamu akhirnya memilih seorang wanita yang akan menemanimu menghabiskan sisa waktu denganmu. Kamu pasti akan tiba pada satu pemberhentian setelah lama mencari tulang rusukmu yang hilang. Dan pasti kamu akan menjalani satu masa dimana kamu benar-benar ingin menikahinya. Menjadi pasangan yang manis, membesarkan anak-anakmu menjadi jundi-jundi kecil menggemaskan dan hebat nantinya, menjadi orang tua yang baik, hingga sampai pada masa menua bersama.
Thursday, 25 September 2014
Mulai Senja
Mulai Senja
Hiruk pikuk semakin sibuk saja
Diingatkan jika sebentar lagi waktu menjeda
Tingkah mendadak tergesa
Hari akan habis segera
Namun ada yang begitu cinta senja
Menggilai meski hanya duduk sendiri menantang waktu padanya
Menunggu seolah sudah tak ada lagi jumpa
Senja itu sejenak sementara dia sudah labuhkan semua asa
Senja menuntun orang pulang ke rumah
Senja menutup perpisahan yang sudah lama
Meski berjauhan hanya sebatas hitungan pagi
Senja yang akhirnya menawan jutaan kerinduan dalam satu cawan
Dan senja itu adalah kamu
Dengan berbagai definisi pada tiap frasanya
Juga pada banyak pagi yang sudah lalu
Kini kamu sudah mulai senja
Maka jadilah senja yang hebat
Pendidik hati menjadi lebih kuat
Di sana nanti kau temui yang mengikat
Yang mengantarkanmu jika bertahun ke depan malammu sudah tiba
Jadilah senja yang tak hanya sayu
Datang untuk semu
Hanya mewarna abu
Yang meninggalkan dan hanya senang ditunggu
Senja itu meneduhkan
Dan pada kegundahan
Jadilah yang meredakan
(Malang, 19 September 2014)
"Selamat ulang tahun. Terima kasih sudah mau menunggu bertahun-tahun ini. Saya sudah pulang lagi. :')"
Hiruk pikuk semakin sibuk saja
Diingatkan jika sebentar lagi waktu menjeda
Tingkah mendadak tergesa
Hari akan habis segera
Namun ada yang begitu cinta senja
Menggilai meski hanya duduk sendiri menantang waktu padanya
Menunggu seolah sudah tak ada lagi jumpa
Senja itu sejenak sementara dia sudah labuhkan semua asa
Senja menuntun orang pulang ke rumah
Senja menutup perpisahan yang sudah lama
Meski berjauhan hanya sebatas hitungan pagi
Senja yang akhirnya menawan jutaan kerinduan dalam satu cawan
Dan senja itu adalah kamu
Dengan berbagai definisi pada tiap frasanya
Juga pada banyak pagi yang sudah lalu
Kini kamu sudah mulai senja
Maka jadilah senja yang hebat
Pendidik hati menjadi lebih kuat
Di sana nanti kau temui yang mengikat
Yang mengantarkanmu jika bertahun ke depan malammu sudah tiba
Jadilah senja yang tak hanya sayu
Datang untuk semu
Hanya mewarna abu
Yang meninggalkan dan hanya senang ditunggu
Senja itu meneduhkan
Dan pada kegundahan
Jadilah yang meredakan
(Malang, 19 September 2014)
"Selamat ulang tahun. Terima kasih sudah mau menunggu bertahun-tahun ini. Saya sudah pulang lagi. :')"
Sajak "Kau Harus Tahu" oleh Tere Liye
Langit dan bumi tidak pernah menyatu,
tapi ketika hujan, mereka bisa bersatu erat saling bercengkrama begitu indah atas setiap tetesnya.
Amat mesrah saling menyapa.
Kau harus tahu
Lautan dan matahari tidak pernah menyatu,
tapi ketika sunset, matahari tenggelam dikaki langit sana, maka garis horizon laut memeluk erat sang matahari.
Untuk besok berjanji kembali akan bersua.
Di sini, di tempat yang sama, di waktu terjanjikan.
Kau harus tau
Bulan dan permukaan kolam jauh saja letaknya tapi saat purnama, tataplah permukaan kolam yang tenang.
Maka bulan persis berada di dalam relung hatinya.
Memantulkan bayangan begitu anggun, kebersamaan singkat yang mempesona.
Maka,
Apalagi kita?
Manusia yang tinggal di tanah yang sama.
Kisah cinta kita bisa begitu spesial.
Di tangan orang-orang yang bersabar dan senantiasa tahu batasnya.
Sungguh percayalah..
tapi ketika hujan, mereka bisa bersatu erat saling bercengkrama begitu indah atas setiap tetesnya.
Amat mesrah saling menyapa.
Kau harus tahu
Lautan dan matahari tidak pernah menyatu,
tapi ketika sunset, matahari tenggelam dikaki langit sana, maka garis horizon laut memeluk erat sang matahari.
Untuk besok berjanji kembali akan bersua.
Di sini, di tempat yang sama, di waktu terjanjikan.
Kau harus tau
Bulan dan permukaan kolam jauh saja letaknya tapi saat purnama, tataplah permukaan kolam yang tenang.
Maka bulan persis berada di dalam relung hatinya.
Memantulkan bayangan begitu anggun, kebersamaan singkat yang mempesona.
Maka,
Apalagi kita?
Manusia yang tinggal di tanah yang sama.
Kisah cinta kita bisa begitu spesial.
Di tangan orang-orang yang bersabar dan senantiasa tahu batasnya.
Sungguh percayalah..
Tuesday, 19 August 2014
Jika Nanti Saya Kalah.
Hari ini saya tersentak dengan satu hal yang tiba-tiba membuat saya menangis. Bukan hal yang besar. Namun, hanya karena satu tulisan saja. Entah kenapa saya sampai setakut ini. Mungkin saya takut kehilangan. Iya, sangat takut kehilangan. Pun pada sesuatu yang belum menjadi milik saya.
Wednesday, 29 February 2012
"Minoritas yg Kau Tau...."
Sudah berapa lama aku konstan pada satu nafas? Merindukanmu tanpa mati. Merindukanmu dalam satu tahun sembilan bulanku.
Tak mudah menjadi aku. Saat setiap malam, mata kerap kali basah. Terlalu lama terjaga, berharap kau sosok yang begitu dermawan, mau meluangkan waktumu sejenak dari berbagai kesibukan. Kemudian kau baca dengan cermat, betapa keras aku menginginkanmu memelukku dalam beku.
Tak mudah menjadi aku. Saat setiap malam, mata kerap kali basah. Terlalu lama terjaga, berharap kau sosok yang begitu dermawan, mau meluangkan waktumu sejenak dari berbagai kesibukan. Kemudian kau baca dengan cermat, betapa keras aku menginginkanmu memelukku dalam beku.
Subscribe to:
Posts (Atom)